Salam
hormat rekan-rekan Guraru se-tanah air. Sebagai tanda perkenalan, saya
akan memuat postingan pertama saya di forum Guraru ini. Saya adalah
penikmat dan pengagum karya-karya musisi besar Indonesia salah satunya
adalah karya Iwan Fals, seorang musisi yang concern dengan
isu-isu sosialnya. Dari sekian banyak karyanya saya mencoba mendalami
betul apa yang sedang dipikirkan Bang Iwan ketika menciptakan salah satu
lagunya yang berjudul "Oemar Bakri". Berikut penggalan liriknya:
---------------------------------
Guru Oemar Bakri
tas hitam dari kulit buaya, selamat pagi
berkata bapak Oemar bakri
ini hari aku rasa kopi nikmat sekali
berkata bapak Oemar bakri
ini hari aku rasa kopi nikmat sekali
tas hitam dari kulit buaya, marilah kita
pergi memberi pelajaran ilmu pasti
itu murid bengalmu mungkin sudah
menunggu
pergi memberi pelajaran ilmu pasti
itu murid bengalmu mungkin sudah
menunggu
Reff :
lalu sepeda kumbang dijalan berlobang
slalu begitu dari dulu waktu jaman jepang
terkejut dia waktu mau masuk pintu
gerbang
banyak polisi bawa senjata berwajah
garang
bapak oemar bakri kaget ada apa
gerangan
berkelahi pak, jawab murid seperti jagoan
bapak oemar bakri takut bukan kepalang
itu sepeda butut dikebut lalu cabut kalang
bakri kentut cepat pulang
buset…standing dan terbang
oemar bakri pegawai negri
oemar bakri…
oemar bakri…
40th, mengabdi jadi guru jujur berbakti
memang makan hati
oemar bakri banyak ciptakan mentri
oemar bakrik profesor, dokter insinyur pun
jadi
tapi mengapa gaji guru oemar bakri
seperti dikebiri
lalu sepeda kumbang dijalan berlobang
slalu begitu dari dulu waktu jaman jepang
terkejut dia waktu mau masuk pintu
gerbang
banyak polisi bawa senjata berwajah
garang
bapak oemar bakri kaget ada apa
gerangan
berkelahi pak, jawab murid seperti jagoan
bapak oemar bakri takut bukan kepalang
itu sepeda butut dikebut lalu cabut kalang
bakri kentut cepat pulang
buset…standing dan terbang
oemar bakri pegawai negri
oemar bakri…
oemar bakri…
40th, mengabdi jadi guru jujur berbakti
memang makan hati
oemar bakri banyak ciptakan mentri
oemar bakrik profesor, dokter insinyur pun
jadi
tapi mengapa gaji guru oemar bakri
seperti dikebiri
-------------------------
Penafsiran
pribadi terhadap sosok Oemar Bakri dalam penggalan lirik tersebut
merupakan sosok yang sederhana, namun perannya begitu besar bagi
lingkungan disekitarnya. Jika saya mendeskripsikan lebih lanjut tentang
"Oemar Bakri" pada lagu ini maka saya akan menemukan sosok seorang guru
dengan pakaian PDH lengkap khas pakaian pegawai negeri, dengan kopiah
dikepala, sedang menggoes sepeda ontel, yang di sadel belakangnya
terdapat penjepitan khusus, untuk menyimpan tas kulitnya, yang berisi
beberapa buah buku dan kapur tulis, menuju suatu sekolah yang berada
dipelosok, dengan medan jalan yang terjal, dan bersiap untuk mengajar
guna menyiapkan generasi emas bangsa ini.
Entah
tepat atau tidak penafsiran saya ini dengan isi kepala Bang Iwan
tentang sosok "Oemar Bakri", namun yang pasti zaman telah berubah, gaya
hidup telah berbeda, teknologi berkembang, dan mungkin saja ketika Bang
Iwan menciptakan tokoh fiktif "Oemar Bakri" ini, dia tidak sempat
membayangkan apa yang terjadi dihari ini, mengingat ketika pembuatan
lagu ini selisih zamannya dengan era kita sekarang kurang lebih 28
tahun! Bayangkan jika pembuatan lagu "Oemar Bakri" terjadi pada hari
ini, mungkin penggalan liriknya akan berbeda, Pak Oemar bisa saja
membawa motor atau bahkan mobil ke sekolahnya, buku di tasnya pun
mungkin sudah berbentuk BSE (Buku Sekolah Elektronik) artinya Pak Oemar
sudah membawa laptop ditasnya, dan bahkan kapur tulispun sudah tidak
dipakai lagi karena sifatnya yang panas dikulit sehingga beralih Pak
Oemar menggunakan spidol, atau bahkan Pak Oemar tidak menggunakan spidol
sama sekali karena sudah ada infocus yang disediakan di sekolahnya,
sehingga kerja Pak Oemar lebih ringan lagi dalam mengajar dan menyiapkan
generasi-generasi emas penerus bangsa ini.
Biarkanlah
Pak Oemar tetap dengan gayanya, namun di era baru semangat Pak Oemar
harus terbarukan dan dilipat gandakan. Pak Oemar jangan merasa nyaman di
zona aman, mengajar dengan kapur ditangan memang tidak salah, tetapi
apa salahnya sesekali memanfatkan teknologi dalam penyampaian ilmu
dikelas agar siswa pun ikut merasakan betapa nikmatnya manfaat
perkembangan teknologi hari ini. Zona konvensional perlu diberikan
sentuhan "hi-tech" agar KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dikelas
semakin variatif, agar sisi positif perkembangan teknologi ini tidak
kalah dengan maraknya penyalahgunaan dari perkembangan teknologi itu
sendiri.
Kita
semua berharap suatu hari nanti secepatnya wajah dunia pendidikan
Indonesia berubah dan benar-benar mendekati sempurna. Dimana dari Sabang
sampai Merauke seluruh sekolah di negeri ini mempunyai kesempatan yang
sama dalam hal pemerataan fasilitas yang menunjang proses KBMnya dan
mampu memanfaatkan betul perkembangan teknologi yang semakin hari
semakin canggih. Dan Mungkin disuatu hari nanti jika pembelajaran
virtual sudah bisa dimanfaatkan, anak-anak di pedalaman pelosok negeri
ini bisa belajar pada Pak Oemar Era Baru yang lokasinya jauh dari
mereka, dimana Pak Oemar berada ditengah ramainya hiruk pikuk kota,
belajar tentang ilmu-ilmu yang bermanfaat, belajar tentang ilmu-ilmu
yang membawa kemashlahatan bersama.
Aamiin Ya Rabbalalamin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar