Senin, 06 Agustus 2012

Mereka yang Gagal dan Mengubah Dunia

Salam hangat sahabat! Ada beberapa artikel yang menarik yang saya dapati di salah satu web media cetak yang sudah lama eksis di tatar priangan.. Ya Harian Umum Galamedia! Okelah saya beriklan disini, tapi tak mengapa karena atas kebaikan mereka saya diizinkan menyalin beberapa artikel untuk di share di HoR.

Berikut artikel nya.. Selamat membaca, dan semoga menjadi motivasi bagi kita! :)

Mereka yang Gagal dan Mengubah Dunia 

Abraham Lincoln
 
SALAH satu presiden Amerika Serikat yang dipandang paling berhasil adalah Abraham Lincoln. Banyak ulasan yang membahas beragam sisi kehidupannya. Namun yang juga menonjol adalah determinasinya. Lincoln sepertinya tidak mengenal kata gagal. Bukan berarti selalu mencapai keberhasilan, tetapi presiden yang kematiannya dikaitkan dengan teori konspirasi itu dikenal tidak pernah terintimidasi oleh kegagalan.

Sebelum menjadi presiden Lincoln bahkan disebut sebagai contoh klasik mereka yang berani gagal. Setidaknya selama periode 1831 hingga 1858 ia mengalami berbagai kegagalan di bidang bisnis dan kehidupan politik. Namun akhirnya pada tahun 1860, ia dilantik sebagai presiden Amerika yang ke-16 dan menjadi salah seorang yang tersukses dalam sejarah Amerika.

Sementara itu di bidang ilmu pengetahuan dunia kini mengenai Albert Enstein. Ilmuwan besar abad ke-20 yang terkenal dengan teori relativitasnya yang juga peraih Nobel. Namun yang jarang diketahui Einstein tidak lahir dengan kecerdasan begitu saja. Di masa kecilnya mengidap autisme dan kesulitan menangkap pelajaran. Namun semua itu memotivasinya untuk fokus pada satu bidang dan menerima kegagalan sebagai proses dari sebuah tujuan.

Selain kedua tokoh tersebut masih banyak sosok lainnya yang juga membuktikan bahwa meski harus mengalami serangkaian kegagalan, mereka tetap kembali dan menunjukkan semua itu tak lain pijakan menuju tujuan yang sesungguhnya. Menghargai kemampuan diri sendiri sekaligus menginspirasi banyak pihak. Siapa saja mereka, berikut di antaranya.

Thomas Edison

Jika sosok yang satu ini langsung menyerah pada percobaan pertamanya dan tidak memiliki keyakinan untuk tetap mencoba hingga lebih dari ratusan kali, mungkin kita harus menunggu lebih lamahingga mengenal bola lampu. Tapi kepribadian seperti itu tidak dimiliki Thomas Alva Edison. Namanya kini masuk dalam jajaran penemu sepanjang masa. Namun sebelum berhasil dengan bola lampunya, Thomas kecil harus mengalami banyak kendala saat belajar.

Di usianya yang baru 4 tahun, Tommy yang memiliki masalah dengan pendengaran juga harus menerima perlakukan diskriminatif dari gurunya. Ia pulang sekolahdengan membawa secarik kertas berisi pemberitahuan bahwa kesulitannya menangkap pelajaran membuatnya diminta mengundurkan diri dari sekolah. Namun sang ibu rupanya tidak setuju. Ia kemudian membimbing anaknya itu dengan keteguhan hingga Tommy kecil memiliki determinasi yang sama dan kemampuan untuk fokus di bidang yang disukainya.

Thomas Alva Edison tercatat hanya bersekolah sekitar tiga bulan. Namun di tengah keterbatasan pendengaran, dengan bimbingan sang ibu, Nancy Edison, ia terus maju hingga menjadi seorang genius berkat keyakinannya bahwa kegagalan di satu fase bukan akhir segalanya. Melainkan awal untuk fase-fase selanjutnya.

Chris Gardner

Salah satu film yang sukses dibintangi aktor Will Smith adalah Pursuit of Happyness. Sebuah film yang diangkat dari buku yang ditulis berdasarkan kisah nyata kehidupan Christoper Paul Gardner. Awalnya Gardner tak lebih dari seorang tunawisma. Ia kehilangan tempat tinggal, ditinggalkan keluarga, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit hingga harus menggelandang. Namun meski tidak berpendidikan ia bertekad mengubah kegagalannya menjadi tangga pembelajaran.

Ia pun belajar terlibat di dunia saham. Bertahun-tahun dilewati dengan trial and error hingga akhirnya Gardner kini dikenal sebagai salah satu sosokpalingsukses di Amerika Serikat. Ia juga mendedikasikan hidupnya sebagai motivator dan filantropis. Ia juga pemilik Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.

Van Beethoven

Musik klasik merupakan jenis musik yang memerlukan harmonisasi tingkat tinggi. Namun semakin kompleks hamoni yang dibangun faktanya semakin indah komposisinya. Musik klasik bahkan menjadi bagian dari terapi sebelum melahirkan karena dipercaya bisa membuat relaks tidak hanya sang ibu tapi juga baik untuk menstimulan perkembangan bayi di dalam kandungan. Salah satu komposer musik klasik yang paling dikenal adalah Ludwig van Beethoven.

Namun dengan aliran musik yang dipilihnya, jangan dikira Beethoven lahir dengan semua kecakapan dan perangkat yang diperlukan untuk menjadi komponis besar. Bahkan sebelum lahir, ia sudah "diragukan". Saat itu ibunya telah dikaruniai delapan orang anak. Tidak hanya itu, tiga di antaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental, dan ia sendiri dinyatakan mengidap sipilis. Namun ia tetap menjaga kandungannya hingga akhirnya lahir anak yang kesembilan dan dengan semua kekurangannya menjadi komponis dunia.

Ketertarikan pada dunia musik membuat Ludwig van Beethoven akhirnya sangat fokus pada bidang yang digelutinya ini. Hal ini bukan sesuatu yang mudah karena justru di akhir dua puluhan, tanda-tanda ketulian mulai dirasakannya. Namun Beethoven mencari caranya sendiri dan serangkaian kegagalan yang dialami justru semakin membuatnya peka terhadap suara dan visi akan harmonisasi Akhirnya dunia pun menjadi saksi keteguhannya dan menempatkan komposisinya sebagai bagian dari mahakarya.

Di antara karya Beethoven yang hingga kini tetap menjadi pilihan adalah 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek, musik vokal, musik teater, dan masih banyak lainnya.

Louis Braille

Menjadi peretas yang menunjukkan jalan bagi sesama dengan kesulitan serupa adalah jalan hidup yang dipilih Louis Braille. Jika musibah yang sebelumnya menimpanya membuat frustrasi dan putus asa maka entah apa nama huruf yang kini digunakan para penyandang tunanetra untuk saling berkomunikasi. Tidak banyak yang memiliki determinasi seperti ini tetapi Louis mencatatkan namanya sebagai satu di antaranya.

Awalnya Louis mengalami masalah penglihatan saat di usia 3 tahun tanpa sengaja melukai matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja milik ayahnya. Namun kemudian masalah penglihatan ini semakin memburuk saat mata yang satunya lagi terkena sympathetic ophthalmia. Sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata sebelumnya. Louis pun harus kehilangan penglihatannya.

Meski demikian kebutaan tidak menghalangi aktivitasnya. Ia bahkan menciptakan jenis huruf tersendiri yang bisa dibaca tanpa harus dilihat. Louis menyusun serangkaian "kode" yang masing-masing setara dengan susunan alphabet dan bisa digunakan untuk berkomunikasi. Awalnya huruf-huruf baru ini hanya digunakan secara terbatas tapi setelah terbukti mudah dan aksesibel maka temuannya itu pu n dipatenkan dan hingga kini siapa pun mengenal huruf Braille.

Hatur nuhun..
Salam,
Penulis HoR

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar